Langsung ke konten utama

Postingan

Kita Boleh Bangga, Legenda Kretek Indonesia di Semesta Per-sebat-an

Sumber gambar: "Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes" oleh Mark Hanusz, 2000. Semua ini bermula dari Quora, aplikasi online yang memfasilitasi tanya jawab diantara para penggunanya, sehingga siapapun yang menggunakan Quora dapat mengajukan pertanyaan, memberikan jawaban, ataupun hanya membaca jawaban dan pertanyaan yang diberikan oleh warganet. Semua pertanyaan dapat diajukan, mulai dari pertanyaan penting tentang sejarah Majapahit sampai yang paling tidak penting seperti misal, mengapa kita selalu terasa lebih cerdas di kamar mandi.             Pada suatu hari yang cerah dan baik untuk bermalas-malasan, saya sedang  scrolling  lini masa Quora dan mendapati salah satu pertanyaan yang menarik perhatian saya: Adakah reaksi yang berkesan dari orang-orang di luar negeri ketika mereka mengetahui kamu berasal dari Indonesia? Sebagai warga negara Indonesia, saya tentu tertarik, dong. Kira-kir...

Kalau Kata Rhoma Irama, Begadang Boleh Saja Asal Ada Perlunya

Kebanyakan begadang seenggaknya memberiku perspektif penting. Sehabis malam akan selalu ada pagi. Sehabis gelap pasti ada terang. Jangan takut lagi. Kalau kau takut gelap, nyalakan saja lampu. Cahaya menemanimu dan meninabobokanmu. Matahari akan segera datang.   Malam menjelang subuh akan selalu yang paling gelap. Tapi tidak apa-apa. Ketika langit mulai membiru dan kau mulai bisa melihat segalanya, semua akan baik-baik saja. Seolah semua monster mati dan mimpi buruk selesai. Saat-saat paling mengambang dengan perasaan aneh—dihantui masa lalu atau terngiang masa depan—akan selesai. Ketika setitik cahaya telah muncul dan suara kokok ayam memecah sunyi, kau akan merasa lega. Saat-saat itu adalah yang terindah dari segalanya.  Lalu kau akan mengalaminya lagi dan lagi.   Dan itu tidak apa-apa. Itu cuma siklus yang kita pelajari saat sekolah dasar. Kau akan terbiasa. Kau tak lagi takut malam maupun gelap. Pada akhirnya, kau akan selalu percaya bahwa sehabis malam selalu a...

An Unusual Easter Day

Hari ini Paskah. Kalau di tahun-tahun sebelumnya, kami akan tidur pukul 9 atau 10 malam, tidak semalam biasanya karena esoknya harus bangun subuh untuk ke gereja. Ibadah Paskah dimulai pukul 5 pagi.  Ibuk akan menjadi orang yang paling pertama bangun, lalu membangunkan aku, Mbak Tin dan Bapak. Sementara Bapak merebus air, aku akan mandi duluan. Masuk ke kamar melihat Mbak Tin catokan. Barangkali aku akan mencatok rambut malam sebelumnya, karena mungkin aku tidak punya waktu di pagi hari. Lalu Mbak Tin akan bergantian mandi. Kemudian Bapak, lalu terakhir Ibuk. Lalu kami akan berangkat bersama-sama.  Aku dibonceng Bapak, Ibuk dibonceng Mbak Tin. Kami akan berkendara beriringan macam konvoi bersama Mbak Rhany yang membonceng Tante Yuni, bersama dengan mobil kotrix yang ditumpangi Mbah Kung, Tante Endang, Grace dan Christo. Rico dan Enri mungkin sudah naik motor terlebih dahulu. Lalu kami akan sampai di gereja. Kemungkinannya ada dua, antara kami menjadi yang paling a...

Remembrance

Beberapa hari yang lalu aku bermimpi. Tulisan ini barangkali tidak sepenuhnya sama dengan mimpi itu, tapi kalimat yang dikatakannya benar-benar jelas sekali dan aku jamin seratus persen sama. Aku tahu baik kau maupun aku takkan bisa mengulang mimpi itu lagi, tapi percayalah padaku. Entah mengapa kemudian aku hidupkan ini sebagai tulisan singkat dan kubagikan padamu. Mungkin hanya sebagai jaga-jaga karena daya ingatku yang buruk supaya kita bisa mengingatnya bersama-sama, dan kau bisa menceritakannya kembali kepadaku apabila aku lupa.             Dalam mimpi itu, aku merasa memasuki dimensi yang baru dan lain, asing dan kosong. Tidak ada apapun yang kulihat selain aku dan dia, yang entah juga dia itu siapa. Tidak ada dinding. Tidak ada lantai. Tidak ada perabotan lain maupun ciri khusus. Sejauh yang kuingat, cuma ruang (bisakah kita menamainya demikian?) yang gelap, mungkin hanya sebaran cahaya kecil berkilauan mirip bintang yan...

Not (Really) A Social Butterfly

I still remember the day I entered a discotic for the first time when I was in a short language course in Germany. It was a new experience for me, a sweet young girl who rarely hang out at night. Well, it's not really because I hate to go outside, but, actually because I have no choice. My family always chooses to be at home rather than go outside. Even for having dinner together or lunch, we rather order it by online apps or simply buy it and take it home. We went together a couple of times, usually in some events held by the office or our church. We sometimes went together only our family, but the one I love and still remember until now is when we spontaneously decided to go to the Singosari Temple and had one of the best bakso we ever tasted.  That day when I first entered the disco, I feel kinda strange. I didn't know what I'm supposed to do, it's just really not my thing. I ended up chatting with some people and went outside the room, eating some snacks and ...

What is Faith?

Beberapa minggu yang lalu saya sedang duduk bersama dengan keluarga, berbincang santai sambil makan malam. Di akhir suapan, entah dari mana asalnya, kami kemudian bicara mengenai iman.             Apa itu iman? Bagaimana seharusnya kita beriman?            Iman adalah suatu konsep yang menarik bagi saya pribadi. Saat ini, pengertian paling pas bagi saya mengenai iman digambarkan secara tepat dalam Ibrani 11:1 “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”             Kata kunci yang penting mengenai iman adalah: percaya.           Kepercayaan menjadi hal penting dalam iman. Iman berarti meyakini sesuatu, mempercayai, mengimani. Sesuatu yang tidak kita lihat, yang kita harapkan demikian adanya. Dan karena ...

Surat yang Lusuh, Lecek, dan Terselip di Pojok Lemari Itu

Aku cuma takut saja bulan tiba-tiba jatuh dan dimakan kecoa, sementara aku belum bersepeda ke rumahmu malam-malam mengantarkan surat cinta. Karena orang zaman sekarang suka sekali akan misteri, barangkali beberapa hal memang baik tetap menjadi misteri. Seperti ketika aku menulis puisi di atap rumahku, ketika tiba-tiba salju turun di daerah tropis dan semua orang tak tahu, ketika diantara salju-salju itu hadir seorang peri kecil yang membuat malam itu sungguh cantik dan tiada yang tahu karena semua orang sedang lelap tertidur. Kata peri itu, “Jangan bonceng dia naik vespa, dia tidak suka. Satu angkot saja sama dia pulang-pergi, atau lebih baik lagi kalian memancal sepeda bersama-sama ketika matahari hampir terbenam.” Peri itu masih kecil, kurasa dia sok tahu sekali. Tapi benar juga sih, apa katanya. Masalahnya, hujan turun pada pagi setelah malam istimewa itu dan aku masuk angin. Karena itulah aku tidak lagi menulis puisi malam-malam di atas genteng rumahku. Lalu kemarin sore a...

Kenapa Saya Tidak Percaya Hantu

“Hati-hati kalau keluar sore hari, nanti diculik wewe gombel.”             Apa itu hantu? Mungkinkah ada dunia lain diluar dunia yang kasat mata? Bagaimana mungkin, setan, yang ‘seharusnya’ multidimensional, sangat terikat dengan wilayah tempat tinggalnya? Pertanyaan-pertanyaan ini terus ‘menghantui’ saya, membuat saya penasaran dan kepikiran dalam waktu-waktu tertentu. Contohnya subuh ini, sekitar pukul 3 pagi, saat saya seharusnya sedang mengerjakan UTS namun malah ganti haluan menulis tentang hal ini. Pertanyaan ini juga membuat saya bertanya-tanya saat membaca memetwit di Twitter, saat mendengarkan orang lain cerita hantu, saat bergosip tentang urban legend dari sekolah dasar sampai kampus. Polanya hampir selalu sama, yakni, pasti sekolah kita dulu bekas rumah sakit dan kelas atau toilet dulunya kamar mayat.             Diskursus mengenai hantu, setan, iblis, dan ...