Aku selalu menyukai saat-saat menjelang malam. Matahari tenggelam perlahan, menyisakan seberkas cahaya yang menembus awan tipis bagai noda di kain putih. Rasanya hangat, berkas-berkas cahaya itu tak terlalu terik, namun cukup terang sebagai teman membaca buku dan menyesap kopi. Semesta seolah menawarkan sepersekian waktu dari keabadiannya untuk mengantar raja matahari kembali tidur, sebuah ritual agung yang diikuti oleh burung-burung, tiupan angin lembut dan pepohonan. Saat-saat seperti itu selalu membuatku menahan napas. Ingin rasanya membungkus pemandangan itu ke dalam bungkus permen sehingga dapat kukulum sewaktu-waktu. Setelah ritual mengantar matahari itu, langit seolah-olah berhenti bermain drama dan menunjukkan jati dirinya. Bintang-bintang muncul dan bulan giliran jaga malam. Seolah-olah mereka ada disana untuk menonton manusia yang tak pernah berhenti bergerak. Langit malam selalu apa adanya. Mereka seolah men...
Nanos gigantum humeris insidentes.