Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label #cerbung

August and Everything After*

  Baca bagian kedua di sini :  Rasio Emas dan Jaringan Rimpang Bagian 3             Dari seluruh hal aneh yang disukainya, aku tahu Phi menyukai satu band spesial. Sebuah band rock asal Inggris yang bubar setelah berdiri selama lima tahun. “Dari waktu yang singkat itu mereka punya banyak album, hits terbaik, dan masa yang keren. They’re the pioneers of seventies’ zeitgeist .” jelasnya dengan raut berbinar. “Lima tahun yang singkat. Hanya lima tahun. Mereka lalu bubar, personelnya membentuk band-band lain. Tapi tidak ada yang bisa menyaingi saat mereka bersama.” Phi menyodorkan sebuah album kepadaku. Album itu tampak lawas, tapi masih terawat dengan sangat baik. “Asli. Aku dapat dari sebuah marketplace . Pemilik sebelumnya juga fanatik sepertiku, makanya ia rawat dengan sebaik mungkin. Terpaksa dia jual karena dia lagi benar-benar butuh uang.”             Aku mengus...

Rasio Emas dan Jaringan Rimpang

Baca bagian pertama disini:  Phi Bagian 2                Lampu kota di kota seperti Amsterdam, dengan sinar oren pucat yang memancar sendirian, berbaris, di jembatan yang dibawahnya mengalir sungai tenang, berkabut. Masing-masing bercerita tentang yang dilihatnya, manusia yang bernaung dibawahnya. Cahaya memelukmu seperti ibu yang tak pernah kau punya.                Lampu yang rusak, yang dibawahnya berdiri seorang yang kapok dengan cinta, dengan hidup, dengan manusia. Tapi percaya pada cahaya, dan lampu yang khawatir akan mengkhianatinya. ***                Selama cuti kuliah, Phi bekerja sebagai penyiar radio di salah satu radio swasta. Ia membawakan program berjudul “Sabtu Sepi Sendiri” yang juga disingkat dengan 3S. Program itu khusus disiarkan setiap hari Sabtu malam dan ditujukan untuk mereka yang kesepian di malam Minggu. Biasanya, P...

Phi: Cerita yang Tak Pernah Usai

Bagian 1 Dalam cerita pendeknya yang berjudul “Tl รถ n, Uqbar, Orbis Tertius”, Jorge Luis Borges mengatakan bahwa cermin dan persetubuhan itu mengerikan karena sama-sama menggandakan manusia. Aku tak bisa tak setuju. Menggandakan manusia itu mengerikan. Apalagi manusianya itu aku. Menggandakan “aku” itu mengerikan.           Sekarang kau bayangkan. Aku berhadapan dengan cermin. Cermin lemari, cermin bedak two way cake, cermin toilet kampus. Semuanya cermin. Semuanya menggandakan aku. Aku melihat pantulan diriku di sebuah bidang datar. Di dalamnya ada dunia yang mirip dengan dunia ini tapi bukan dunia ini. “Aku” yang kulihat di cermin bukan aku. Aku tak bisa menyentuhnya. Lama kelamaan timbul perasaan aneh, kemudian ngeri. Bukan karena refleksi diriku sendiri, tapi karena mengapa begitu besar perasaan untuk membenci refleksi itu. Namun kebencian itu juga membuatku heran. Aku bersikap manis padaku, tapi di saat yang sama menghindariku. Tahu...