Langsung ke konten utama

Postingan

Suatu Hari yang Indah di Schwarzwald

(1) Mudah sekali merasa rindu. Saat kamu duduk di depan kaca dan melihat ke arah jalanan, kebetulan lagu I Miss You dari Blink-182 yang berputar secara acak di hapemu. Lalu tiba-tiba kenangan itu muncul satu per satu, acak, samar, sampai sulit dibedakan mana yang nyata mana yang tidak. Saat secara tiba-tiba ada sesuatu yang dulu pernah kamu kenal menganggumu lagi. Saat tiba-tiba semuanya terasa jauh sekali. Saat kamu ingin tertawa dalam tangis. Seperti kesadaran bahwa segalanya tak lagi sama. Saya rindu sekali pada dirimu. Sejauh apapun saya pergi ujung-ujungnya dirimu lagi. Seperti sebuah kenangan yang muncul secara kurang ajar. Mudah sekali merasa rindu. Pada apa yang kini terasa sulit. Terasa lucu juga. Merindukanmu seperti mengingat sesuatu yang tak pernah terjadi. Sulit dicari jawabnya. (2) Kadang bosan berputar-putar dalam kata. Bosan berbelit-belit tapi kamu nggak tahu juga maksudnya apa. Kadang lebih enak ngomong langsung terang-terangan: Saya rindu kamu. Seperti itu mis...

Paradoks Kebahagiaan

Hari ini aku mendongak dan menatap ke arah langit. Seekor burung terbang dekat sekali dengan wajahku. Ia tidak mengepakkan sayap, sayapnya terbuka lebar dan ia terus terbang tinggi. Lalu aku menutup mata dan tertegun, tanpa sadar bibirku tersenyum. Paru-paruku terisi penuh oleh napas kelegaan yang segar luar biasa, pada suatu hari mendung di pinggir sawah. Burung-burung terbang berputar-putar diatas kepalaku. Saat-saat itu selalu sama; saat-saat penuh kepercayaan bahwa esok semua akan baik-baik saja. Mungkin saat pulang aku lupa rasanya. Aku lupa bagaimana bahagianya dan tenangnya aku saat itu. Aku lupa perasaan bahwa esok akan baik-baik saja. Sebagian dari diriku bersyukur karena aku lupa. Sebab aku akan merindukan saat-saat itu dan merasa begitu berbeda.

Cerita di Balik Lagu-Lagu Westlife (Menurut Versi Tanti:v) Part 2

            Wahai kawan-kawan sejagad maya, kembali lagi bersama saya Tanti, nama lainnya Soetanti (supaya kedengaran lebih ‘nyeni’, wkwk). Oya, sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat buat Raisa dan Hamish atas kelahiran anak pertamanya… Hehehe. Meskipun ini nggak ada hubungannya tapi saya turut berbahagia, lho <3. Kemarin saya sudah janji untuk melanjutkan cerita dibalik lagu-lagu Westlife menurut versi saya, karena lagu-lagu Westlife memang penuh makna dan membuat saya mampu bernostalgia kembali ke masa lampau. Karena saat itu saya ada kelas, saya berjanji untuk melanjutkannya sekarang. Dan karena saya adalah pelaut yang selalu memegang janji, saya akan tepati saat ini. Huehehehe. Baik, mari kita mulai. Ahoy! 5. Where We Belong And now we’re fours years on Feels like we’ve just begun Never forget this is where we belong… Mendengar lagu ini membuat saya kembali di suatu malam yang indah beberapa tahun lalu...

Cerita di Balik Lagu-Lagu Westlife (Menurut Versi Tanti :v) Part 1

Setidaknya sudah sekitar tiga minggu yang lalu terakhir kali saya menulis blog ini. Blog aneh yang isinya random banget. Kebanyakan pikiran apapun yang melintas di kepala saya dan ingin saya tulis. Sudah lama saya nggak nulis tentang pengalaman. Habis, sejauh ini belum ada pengalaman yang saking serunya pengen saya tulis, sih. Tapi saya pengen banget bagi cerita tentang proyek saya yang nggak tahu bakal kapan terwujudnya. Proyek ini sebenarnya sudah saya rencanakan sejak Ujian Sekolah SMA tahun lalu. Saat itu di pikiran saya cuma ada tiga, pertama saya harus dapat seratus UN Bahasa Inggris, pergi ke Candi Borobudur, dan menang lomba tulis menulis. Dari ketiga goal jangka pendek ini nggak ada satupun yang tercapai, wkwkwk. Tapi seenggaknya saat itu sudah cukup membuat saya keburu pengen selesai ujian. Karena nggak ada yang tercapai, satu impian kecil yang sebenarnya sangat bisa dilakukan bahkan saat ini pun muncul di kepala saya pada waktu itu. Nggak tahu kapan dan bagaimana, saya ingin...

Another One That Deserves Your Attention Too: Sekelumit Kisah Cinta Segitiga

Tak dapat dipungkiri, film romansa akan selalu menjadi salah satu genre terkomersil sepanjang masa. Genre romansa ini dapat menjangkau semua umur maupun kalangan, karena tentu saja semua orang memiliki pengalaman akan cinta, akrab dengan perasaan itu semasa mereka hidup. Bahkan, genre percintaan ini merambah ke genre-genre yang lain, menjadi bumbu-bumbu penyedap yang diharapkan dapat membolak-balikkan emosi manusia. Film apa sih, yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan cinta? Yang tidak ada adegan romansanya sedikit saja? Mungkin kita bisa hitung dengan jari. Bahkan tidak cuma film, baik sinetron, web series, novel, dongeng, cerpen, drama Korea sampai seri Azab pun, semuanya memiliki unsur romansa didalamnya! Setiap macam judul menawarkan kisah cinta yang berbeda-beda. Ada yang menceritakan tentang kekasih yang ternyata adalah anak dari ayah tirinya (kayak tahu ini jenis apa wkwk), perjodohan ala Siti Nurbaya, kisah cinta seorang platonik yang betah dalam diam, cinta pada sahaba...

Menjelang Malam

Aku selalu menyukai saat-saat menjelang malam. Matahari tenggelam perlahan, menyisakan seberkas cahaya yang menembus awan tipis bagai noda di kain putih. Rasanya hangat, berkas-berkas cahaya itu tak terlalu terik, namun cukup terang sebagai teman membaca buku dan menyesap kopi. Semesta seolah menawarkan sepersekian waktu dari keabadiannya untuk mengantar raja matahari kembali tidur, sebuah ritual agung yang diikuti oleh burung-burung, tiupan angin lembut dan pepohonan. Saat-saat seperti itu selalu membuatku menahan napas. Ingin rasanya membungkus pemandangan itu ke dalam bungkus permen sehingga dapat kukulum sewaktu-waktu.             Setelah ritual mengantar matahari itu, langit seolah-olah berhenti bermain drama dan menunjukkan jati dirinya. Bintang-bintang muncul dan bulan giliran jaga malam. Seolah-olah mereka ada disana untuk menonton manusia yang tak pernah berhenti bergerak. Langit malam selalu apa adanya. Mereka seolah men...

Betapa Miskinnya Kita

Saat menyadari bahwa semua yang kita miliki ini hanyalah titipan, aku merasa bahwa ternyata aku ini diciptakan dalam keadaan miskin sekali. Kita merasa bahwa seolah-olah kita kaya dengan memiliki segalanya, padahal apa yang disebut pemberian sebenarnya hanya merupakan titipan. Kukira Tuhan tidak main-main menciptakan kita. Kukira Ia menciptakan kita dengan segala kemewahan ini. Saya pikir Ia benar-benar tulus memberikannya. Ternyata tidak. Ini semua hanyalah titipan! Karena itu, saat menyadari bahwa aku tak memiliki apapun di dunia ini, aku protes pada Tuhan dan mulai meminta ini itu. Baju yang kupakai ini milikku, maka itu Tuhan tidak bisa semena-mena membuatnya basah karena hujan tanpa persetujuanku. Rumahku adalah kepunyaanku, Tuhan tidak bisa seenaknya membakarnya jika aku tak mengizinkannya. Dalam doaku, Tuhan telah mengabulkanku. Ia bilang bahwa aku boleh memiliki semuanya yang tadi kuminta--baju maupun rumah. Karena diperbolehkan, aku pun meminta lebih. Kali ini aku percaya bah...

Menonton Laron

            Saya kira tidak ada yang lebih syahdu daripada menonton laron-laron berterbangan di seputaran lampu jalan dekat pos ronda tengah kampung bersama Bapak. Malam-malam, sehabis hujan, bertemankan jaket tebal dan sepotong cerita, kami menonton laron yang seolah-olah menggambarkan kondisi chaos. Tanpa tujuan, merebut cahaya, ketakutan. Tak karuan.             Kegiatan menonton laron sehabis hujan merupakan agenda wajib saya dan Bapak sehabis maghrib. Saya sangat menyukai pertunjukan itu sebab bagi saya laron-laron yang berterbangan itu dramatis sekali. Mereka adalah wujud nyata konsep anarki, kelompok tanpa hierarki yang sama-sama memiliki insting melindungi diri. Saya suka melihat bagaimana mereka terdorong oleh kebutuhan dengan memberanikan diri keluar dari dalam tanah dan mencari kehangatan. Saya tertarik pada bagaimana laron-laron ini keluar mencari pasangan dan ...